Senin, 23 Maret 2009

Need No Reason to Hate...


Ada seorang kawan, yang entah kenapa, selalu menjadi sasaran kebencian.

Tak hanya verbally; kawan itu kerap menerima perlakuan tak menyenangkan khas anak-anak yang baru tumbuh & berkembang. Di satu waktu mungkin sambitan-sambitan kertas atau cuilan karet penghapus. Di waktu lain lemparan penghapus papan tulis berbedak kapur. Tak jarang juga, cubitan yang pedih atau tamparan yang pedas. Pernah, balsem dioleskan di bangkunya sehingga ia melonjak kepanasan.

Kawan itu tak pernah membalas. Tapi perlakuan terhadapnya tak juga berkurang. Yang sulit dijawab adalah sebuah pertanyaan: mengapa?

Barangkali karena kita tak perlu punya alasan untuk membenci. Kita bisa membenci orang lain entah karena apa. Kita tak mengerti, karena tak pernah mau mencoba mengolah & mencari. Semua jawaban, sebetulnya ada di dalam diri kita sendiri.

Sayang sekali; kegagapan kita untuk menemukan jawaban-jawaban itu, tampaknya membuat seseorang terpaksa menjadi sasaran. Dan dia tak pernah membalas. Mungkin di benaknya pun menyeruak pertanyaan: mengapa? Hanya saja, ia memilih untuk bertahan dalam diam, bukannya melampiaskan dengan cara-cara yang juga tak terpahamkan...*